Senin, 18 November 2013

Memupuk Spirit di Hari Raya Kurban




Hari Raya Idul Adha, atau Hari Raya Kurban tinggal menghitung hari. Namun hingar-bingar sudah mulai dilakukan, mulai dari membeli hewan kurban. Tahun ini, hari raya tepat pada hari selasa, 15 Oktober. Salah satu hari besar kaum muslim ini disambut dengan takbir, tahmid dan tahlil, sebagai ungkapan rasa gembira dan suka cita di penjuru dunia.

Jika berbicara Hari raya Kurban, kita tidak akan lepas dari rentetan sejarah, dimana terjadi peristiwa penting yang dilakukan Nabi Ibrahim A.S, Siti Hajar, dan puteranya Nabi Ismail A.S. Dalam sejarahnya, Nabi Ibrahim sebagai seorang ayah yang meridukan sosok seorang anak, akhirnya mempunyai anak yang diberi nama Ismail. Namun setelah anaknya beranjak remaja, saat itu pula Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anak satu-satunya itu. Sebagai hamba Allah yang taat terhadap perintahnya, nabi Ibrahim akhirnya mengikhlaskan anaknya untuk dijadikan kurban. Siti Hajar pun sebagai ibu ikhlas anaknya dikurbankan demi pengabdian diri kepada Allah. Demikian pula dengan Ismail. Ia ikhlas menerima kabar itu untuk dijadikan Kurban.
Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar harus mengalami berbagai tantangan dan rintangan. Diantaranya adalah setan atau iblis yang menggoda beliau agar tidak melaksanakan perintah Allah. Namun dengan keikhlasan dan ketaatan beliau, akhirnya proses kurban pun dilaksanakan, sampai ada momen proses penyembelihannya diganti dengan seekor domba sebagai ganti dari Nabi Ismail.
Dari sejarah yang melibatkan keluarga nabi Ibrahim tersebut, kita sebagai umat islam seharusnya dapat memetik hikmah dari kurban tersebut. Makna kurban tidak hanya diartikan sebagai proses penyebelihan hewan dan memperoleh daging. Melainkan banyak hal yang dapat dipelajari dari hikmah tersebut.
Nabi Ibrahim ikhlas melaksanakan kurban dengan merelakan anaknya menjadi kurban, sementara umat islam setelahnya bisa melaksanakan kurban dengan menyembelih binatang. Jika ukuran kita hanya formalitas berkurban dengan menyembelih binatang, lebih parahnya lagi hanya untuk memperoleh pengakuan dari masyarakat, dan tanpa mengerti esiensi, nilai-nilai dan pesan yang disampaikan, alangkah dangkalnya iman dan taqwa kita kepada Allah. Begitu banyak hikmah yang dapat diperoleh dari ibadah kurban tersebut. Hikmah-hikmah ibadah tersebut setidaknya dapat kita peroleh dengan tiga hal, yaitu spiritual, moral, dan sosial. Spiritual merupakan langkah kita untuk semakin taqwa kepada Allah. Dengan adanya ibadah Kurban ini, kita bisa melaksanakan perintah Allah lewat Kurban. Bukan karena daging dan darahnya yang diinginkan Allah, melainkan keihlasan kita dalam melaksanakannya. Hal itu ditegaskan oleh Allah dalam firmanNya dalam surat al-Hajj ayat 37, “daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”.
Sedangkan dari aspek sosial, kita diajarkan untuk tidak egois. Ibadah kurban memberi pesan bahwa dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah lepas dari sosial kemasyarakatan. Hal itu juga mengajarkan bahwa dalam menjalankan hidup harus saling mengasihi dan memberi kepada saudara, tetangga dan sesama umat islam. Dengan begitu, kehidupan bermasyarakan akan selalu rukun tanpa ada gejolak di ligkungan masyarakat.
Oleh karena itu, ibadah kurban tidak hanya dipahami sebagai suatu hal yang berfoya-foya dan pesta daging. Di sisi lain, kita harus memahami bukan sebagai hal yang pasti berhasil mengatasi problema ekonomi umat, melainkan hanya sebagai syarat akan pentingnya kepedulian sosial dan solidaritas saling membantu, tumbuhnya nilai kebersamaan terutama si kaya dan si miskin. Dengan demikian, kebersamaan antara si kaya dengan si miskin akan selalu terjaga tanpa ada dinding pemisah.
Kebersamaan inilah yang harus kita tanam di hati masing-masing induvidu. Kehadiran idul adha kembali mengingatkan kita untuk selalu bertaqwa kepada Alla sebagai pencipta alam semesta. Jadi, jangan hanya memahami kebersamaan di waktu hari raya Kurban saja, malainkan terus berlangsung secara kontinu di kemudian hari sampai akhir zaman. Semoga!

*tulisan ini dimuat di Lampung post rubrik Opini 14 oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar