Hari Raya Idul Adha, atau Hari Raya Kurban tinggal menghitung hari. Namun hingar-bingar sudah
mulai dilakukan, mulai dari membeli hewan kurban. Tahun ini, hari raya tepat pada hari selasa, 15 Oktober. Salah satu hari
besar kaum muslim ini disambut dengan takbir, tahmid dan tahlil, sebagai
ungkapan rasa gembira dan suka cita di penjuru dunia.
Jika berbicara Hari raya Kurban, kita tidak akan lepas dari rentetan
sejarah, dimana terjadi peristiwa penting yang dilakukan Nabi Ibrahim A.S, Siti
Hajar, dan puteranya Nabi Ismail A.S. Dalam sejarahnya, Nabi Ibrahim sebagai
seorang ayah yang meridukan sosok seorang anak, akhirnya mempunyai anak yang
diberi nama Ismail. Namun setelah anaknya beranjak remaja, saat
itu pula Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anak
satu-satunya itu. Sebagai hamba Allah yang taat terhadap
perintahnya, nabi Ibrahim akhirnya mengikhlaskan anaknya untuk dijadikan kurban.
Siti Hajar pun sebagai ibu ikhlas anaknya dikurbankan demi
pengabdian diri kepada Allah. Demikian pula dengan Ismail. Ia ikhlas menerima kabar itu untuk dijadikan Kurban.
Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar harus
mengalami berbagai tantangan dan rintangan. Diantaranya adalah setan atau iblis
yang menggoda beliau agar tidak melaksanakan perintah Allah. Namun dengan
keikhlasan dan ketaatan beliau, akhirnya proses kurban pun dilaksanakan, sampai
ada momen proses penyembelihannya diganti dengan seekor domba sebagai ganti
dari Nabi Ismail.
Dari sejarah yang melibatkan keluarga nabi
Ibrahim tersebut, kita sebagai umat islam seharusnya dapat memetik hikmah dari kurban
tersebut. Makna kurban tidak hanya diartikan sebagai proses penyebelihan hewan
dan memperoleh daging. Melainkan banyak hal yang dapat dipelajari dari hikmah
tersebut.
Nabi Ibrahim ikhlas melaksanakan kurban dengan
merelakan anaknya menjadi kurban, sementara umat islam setelahnya bisa
melaksanakan kurban dengan menyembelih binatang. Jika ukuran kita hanya
formalitas berkurban dengan menyembelih binatang, lebih parahnya lagi hanya
untuk memperoleh pengakuan dari masyarakat, dan tanpa mengerti esiensi,
nilai-nilai dan pesan yang disampaikan, alangkah dangkalnya iman dan taqwa kita
kepada Allah. Begitu banyak hikmah yang dapat diperoleh dari ibadah kurban
tersebut. Hikmah-hikmah ibadah tersebut setidaknya dapat kita peroleh dengan
tiga hal, yaitu spiritual, moral, dan sosial. Spiritual merupakan langkah kita
untuk semakin taqwa kepada Allah. Dengan adanya ibadah Kurban ini, kita bisa
melaksanakan perintah Allah lewat Kurban. Bukan karena daging dan darahnya yang
diinginkan Allah, melainkan keihlasan kita dalam melaksanakannya. Hal itu
ditegaskan oleh Allah dalam firmanNya dalam surat al-Hajj ayat 37, “daging-daging
unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi
ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya”.
Sedangkan dari aspek sosial, kita diajarkan
untuk tidak egois. Ibadah kurban memberi pesan bahwa dalam kehidupan
sehari-hari tidak pernah lepas dari sosial kemasyarakatan. Hal itu juga
mengajarkan bahwa dalam menjalankan hidup harus saling mengasihi dan memberi
kepada saudara, tetangga dan sesama umat islam. Dengan begitu, kehidupan
bermasyarakan akan selalu rukun tanpa ada gejolak di ligkungan masyarakat.
Oleh karena itu, ibadah kurban tidak hanya dipahami sebagai suatu
hal yang berfoya-foya dan pesta daging. Di sisi lain, kita harus memahami bukan sebagai hal yang pasti berhasil mengatasi problema ekonomi umat,
melainkan hanya sebagai syarat akan pentingnya kepedulian sosial dan
solidaritas saling membantu, tumbuhnya nilai kebersamaan terutama si kaya dan si miskin. Dengan demikian, kebersamaan
antara si kaya dengan si miskin akan selalu terjaga tanpa ada dinding pemisah.
Kebersamaan inilah yang harus
kita tanam di hati masing-masing induvidu. Kehadiran idul adha kembali
mengingatkan kita untuk selalu bertaqwa kepada Alla sebagai pencipta alam
semesta. Jadi, jangan hanya memahami kebersamaan di waktu hari raya Kurban
saja, malainkan terus berlangsung secara kontinu di kemudian hari sampai akhir
zaman. Semoga!
*tulisan ini dimuat di Lampung post rubrik Opini 14 oktober 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar