Rabu, 27 November 2013

Cerdas Memilih Pemimpin



Pemilihan umum (Pemilu) Presiden 2014 memang masih beberapa bulan lagi. Namun ketatnya persaingan dalam menduduki kursi nomor satu Indonesia tampaknya akan berjalan sengit. Tidak adanya calon incumbent akan semakin sengit dalam pemilihan Presiden 2014 mendatang. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sudah dua priode memimpin bangsa ini sudah tidak bisa lagi mencalonkan diri menjadi presiden.

Kemunculan tokoh-tokoh lama populer lain seperti Wiranto, Prabowo, Megawati, Jusuf Kalla, Surya Paloh, dan Aburizal Bakrie, menjadi alternatif untuk menggantikan SBY menjadi presiden, meskipun tidak menutup kemungkinan ada tokoh-tokoh baru yang hadir. Misalnya mahfud MD, Gita Wirjawan, Dahlan Iskan, Sri Mulyani, dan Joko Widodo.
Akhir-akhir ini, musim politik sudah semakin kental menghiasi berbagai ranah kehidupan. Pertama, partai politik gencar mempromosikan bakal calon presiden yang diusungnya, baik melalui media cetak maupun elektronik. Hal itu dilakukan tentu untuk menarik simpati masyarakat luas mengenal figur calon pemimpin masa depan. Meskipun dinilai tidak mempunyai rekam jejak politik yang luas, bakal calon presiden dan wakil presiden pun dipilih sebagai alternatif untuk mengisi kekosongan partai politik tersebut. Itu semua dipilih karena berbagai alasan. Misalnya partai politik yang bersangkutan krisis regenerasi yang siap untuk berperang menjadi orang nomor satu di negeri ini. Bakal calon presiden yang dipilih juga tidak lagi berdasarkan kualifikasi yang dibutuhkan bagsa ini. Misalnya bakal calon presiden dan wakil presiden yang dipilih karena kekuatan materi.
Musim politik yang kedua adalah kesenangannya partai politik untuk mempertahankan dinasti politiknya. Meskipun partai politik tersebut mengklaim dirinya sebagai partai yang mengusung demokrasi sebagai ideologi politiknya, namun pada praktiknya struktur dan kepengurusan dari partai tersebut tidak lepas dari pengelolaan secara keluarga. Bahkan ada politisi yang masih menggunakan figur-figur tokoh penting dalam melakukan kampanye politiknya. Meskipun gaya kepemimpinan dan paradigma berfikir jelas berbeda.
Ketiga adalah hadirnya figur-figur alternatif yang selalu unggul diberbagai hasil survie seperti Joko Widodo. Joko Widodo memang menjadi perhatian akhir-akhir ini. Mengapa tidak berbagai survie hampir menempatkan gubernur DKI Jakarta tersebut di posisi nomor satu. Pemimpin yang mempopulerkan istilah “blusukan” ini memang dikenal sebagai pemimpin yang sederhana serta apa adanya menjadikan nilai tersendiri bagi masyarakat maupun kalangan politik.
Namun, hasil survie dan keberadaan figur-figur politikus tidak serta merta menjadi jaminan untuk bisa memimpin bangsa ini. Pasalnya, banyak permasalahan bangsa akhir-akhir ini yang perlu diselesaikan. Jika hanya mengandalkan figur populer dan hasil survie dalam menentukan pilihan, tidak ada jaminan untuk bisa memimpin dan menyelesaikan problem bangsa ini. Yang diperlukan adalah sosok pemimpin yang bisa menyentuh pokok persoalan bangsa sampai ke akar-akarnya serta mempunyai ide kreatif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.
Oleh karena itu, penting kiranya pemilih cerdas dalam menentukan pilihannya di Pemilu 2014 mendatang. Pertama, Pemilih harus cerdas dalam menentukan calon wakil rakyat yang bisa mengemban amanah rakyat. Jangan sampai tertipu dengan calon-calon yang hanya berpolitik sosialis semasa kampanye, sehingga tidak menjelma menjadi pemimpin yang mengemban amanah rakyat yang pada akhirnya akan menjadi pemimpin yang kapitalis dan membohongi rakyat.
Kedua, memperbanyak referensi dalam membaca sosok pemimpin masa depan. Masyarakat tidak boleh lagi terpaku pada sosok tokoh masyarakat sekitar dan ikut-ikutan dalam memilih. Pemilih harus mampu membaca dan menganalisa sendiri sejauh mana profil dan gaya kepemimpinan calon wakil rakyat.
Ketiga, mencari pemimpin yang memahami kebutuhan bangsa. Pemimpin tersebut harus mampu menyatukan berbagai perbedaan dan keberagaman. Jika kita lihat akhir-akhir ini, berbagai permasalahan sering terjadi, baik masalah politik, keagamaan, adat dan lain sejenisnya. Oleh karenanya, diharapkan pemimpin yang terpilih mampu merangkul dan meredam semua permasalahan tersebut. Semoga!

*dimuat di Harian Nasional, 26 ovember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar