Pemilihan umum (Pemilu) Presiden 2014
memang masih beberapa bulan lagi. Namun ketatnya persaingan dalam menduduki
kursi nomor satu Indonesia tampaknya akan berjalan sengit. Tidak adanya calon
incumbent akan semakin sengit dalam pemilihan Presiden 2014 mendatang. Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sudah dua priode memimpin bangsa ini sudah
tidak bisa lagi mencalonkan diri menjadi presiden.
Kemunculan tokoh-tokoh lama populer lain
seperti Wiranto, Prabowo, Megawati, Jusuf Kalla, Surya Paloh, dan Aburizal
Bakrie, menjadi alternatif untuk menggantikan SBY menjadi presiden, meskipun
tidak menutup kemungkinan ada tokoh-tokoh baru yang hadir. Misalnya mahfud MD,
Gita Wirjawan, Dahlan Iskan, Sri Mulyani, dan Joko Widodo.
Akhir-akhir ini, musim politik sudah
semakin kental menghiasi berbagai ranah kehidupan. Pertama, partai
politik gencar mempromosikan bakal calon presiden yang diusungnya, baik melalui
media cetak maupun elektronik. Hal itu dilakukan tentu untuk menarik simpati
masyarakat luas mengenal figur calon pemimpin masa depan. Meskipun dinilai tidak
mempunyai rekam jejak politik yang luas, bakal calon presiden dan wakil
presiden pun dipilih sebagai alternatif untuk mengisi kekosongan partai politik
tersebut. Itu semua dipilih karena berbagai alasan. Misalnya partai politik
yang bersangkutan krisis regenerasi yang siap untuk berperang menjadi orang
nomor satu di negeri ini. Bakal calon presiden yang dipilih juga tidak lagi
berdasarkan kualifikasi yang dibutuhkan bagsa ini. Misalnya bakal calon
presiden dan wakil presiden yang dipilih karena kekuatan materi.
Musim politik yang kedua adalah
kesenangannya partai politik untuk mempertahankan dinasti politiknya. Meskipun
partai politik tersebut mengklaim dirinya sebagai partai yang mengusung
demokrasi sebagai ideologi politiknya, namun pada praktiknya struktur dan
kepengurusan dari partai tersebut tidak lepas dari pengelolaan secara keluarga.
Bahkan ada politisi yang masih menggunakan figur-figur tokoh penting dalam
melakukan kampanye politiknya. Meskipun gaya kepemimpinan dan paradigma berfikir
jelas berbeda.
Ketiga adalah hadirnya figur-figur alternatif
yang selalu unggul diberbagai hasil survie seperti Joko Widodo. Joko Widodo
memang menjadi perhatian akhir-akhir ini. Mengapa tidak berbagai survie hampir menempatkan
gubernur DKI Jakarta tersebut di posisi nomor satu. Pemimpin yang mempopulerkan
istilah “blusukan” ini memang dikenal sebagai pemimpin yang sederhana serta apa adanya menjadikan nilai tersendiri bagi
masyarakat maupun kalangan politik.
Namun, hasil survie dan keberadaan
figur-figur politikus tidak serta merta menjadi jaminan untuk bisa memimpin
bangsa ini. Pasalnya, banyak permasalahan bangsa akhir-akhir ini yang perlu
diselesaikan. Jika hanya mengandalkan figur populer dan hasil survie dalam menentukan
pilihan, tidak ada jaminan untuk bisa memimpin dan menyelesaikan problem bangsa
ini. Yang diperlukan adalah sosok pemimpin yang bisa menyentuh pokok persoalan
bangsa sampai ke akar-akarnya serta mempunyai ide kreatif dalam menyelesaikan
berbagai permasalahan.
Oleh karena itu, penting kiranya pemilih
cerdas dalam menentukan pilihannya di Pemilu 2014 mendatang. Pertama, Pemilih
harus cerdas dalam menentukan calon wakil rakyat yang bisa mengemban amanah
rakyat. Jangan sampai tertipu dengan calon-calon yang hanya berpolitik sosialis
semasa kampanye, sehingga tidak menjelma menjadi pemimpin yang mengemban amanah
rakyat yang pada akhirnya akan menjadi pemimpin yang kapitalis dan membohongi
rakyat.
Kedua, memperbanyak referensi dalam membaca
sosok pemimpin masa depan. Masyarakat tidak boleh lagi terpaku pada sosok tokoh
masyarakat sekitar dan ikut-ikutan dalam memilih. Pemilih harus mampu membaca
dan menganalisa sendiri sejauh mana profil dan gaya kepemimpinan calon wakil
rakyat.
Ketiga, mencari pemimpin yang memahami kebutuhan
bangsa. Pemimpin tersebut harus mampu menyatukan berbagai perbedaan dan
keberagaman. Jika kita lihat akhir-akhir ini, berbagai permasalahan sering
terjadi, baik masalah politik, keagamaan, adat dan lain sejenisnya. Oleh
karenanya, diharapkan pemimpin yang terpilih mampu merangkul dan meredam semua
permasalahan tersebut. Semoga!
*dimuat di Harian Nasional, 26 ovember 2013
*dimuat di Harian Nasional, 26 ovember 2013
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar